![]() |
| Kelenteng Thai Seng Hut Co, Jalan Rambutan, Kelurahan Bandar Senembah, Kecamatan Binjai Barat (Dok : Istimewa) |
MAWARNEWS.COM/BINJAI
Konflik bernuansa Suku, Agama, Ras dan Golongan (SARA) masih terjadi di Indonesia, tepatnya di Kelenteng Thai Seng Hut Co, Jalan Rambutan, Kelurahan Bandar Senembah, Kecamatan Binjai Barat, (22/02/2026).
Perayaan kembang api yang diadakan di Kelenteng Thai Seng Hut Co pada tanggal 22 Februari 2026 pukul 23.00, diadakan setelah kegiatan Sholat tarawih dan tadarusan di masjid. Acara dihentikan karena terjadi kegaduhan disaat kemeriahnya sedang berjalan, mengingat kegiatan ini masih berhubungan dengan Imlek yang baru-baru ini dilaksanakan di kelenteng tersebut.
Kehadiran Kepala Lingkungan (Kepling) 3 Nurlela Saragih, dan Sulastri Kepala Lingkungan 4 diduga memprovokasi beberapa warga disekitaran Kelenteng tersebut, untuk membuat kegaduhan, dengan alasan merasa terganggu atas kegiatan yang terjadi dan meminta segala rangkaian kegiatan agar dihentikan dan kedepannya tidak boleh lagi ada kegiatan Kembang Api di Klenteng tersebut.
![]() |
| Yogi Suramana Tarigan Saat Melakukan Demonstrasi di Kantor Walikota Binjai Beberapa Waktu Lalu (Dok : MawarNews) |
Menanggapi hal itu Yogi Suramana Tarigan Selaku Ketua Masyarakat Peduli Keagamaan (MPK) Kota Binjai, yang juga pada saat itu berada di tempat kejadian menyampaikan "sangat menyayangkan hal ini sampai terjadi, mengingat kegiatan ini telah mendapatkan izin dari pihak Polsek, serta Koramil, dan juga masyarakat sekitar, yang diwujudkan juga sebagai ucapan terima kasih dari pihak Kelenteng, dengan membagikan sembako jauh sebelum kegiatan ini dimulai, karena kegiatan ini masih dalam satu rangkaian Imlek kemarin, kemarin juga aman, kenapa sekarang begini, Kepling juga kenapa marah-marah membawa beberapa warga dan mengucapkan hal-hal yang kurang pantas, copot saja Kepling-kepling Intoleran begini, ini Kecamatan Binjai Barat, warganya multietnik," pungkasnya.
Diketahui Kembang api saat Imlek melambangkan pengusiran roh jahat dan makhluk mitos "Nian" melalui suara bising dan cahaya terang, sekaligus menyambut kemakmuran, keberuntungan, serta energi positif di tahun baru. Tradisi ini menandai transisi dari tahun lama ke baru, menciptakan suasana meriah dan pembersihan spiritual. (Van Nst)

