![]() |
| Kanan, Ketua DPC Kota Binjai/Bung Windi, bersama para Kader GMNI Seluruh Sumatera Utara (Dok : Kader GMNI) |
MAWARNEWS.COM/MEDAN
Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Utara yang diselenggarkan sejak tanggal 7 hingga 10 November 2025 di Kota Medan, diwarnai kontroversi disana-sini dalam pelaksanaannya, selasa (11/11/2025)
Acara yang dibuka langsung dengan penuh semangat oleh Ketua DPD PA GMNI Sumatera Utara, Dr. Sutarto, M.Si, yang notabene sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, awalnya kegiatan ini berjalan lancar, namun keadaan berbalik hingga 11 november, tidak ada satupun sidang yang terealisasikan. Keterlambatan dalam sidang ini diduga terjadi akibat intervensi senior yang mengarahkan dukungan ke salah satu calon.
![]() |
| Wakil Ketua I DPRD Provinsi Sumatera Utara/Dr. Sutarto, M.Si (Dok : Kader GMNI) |
Alih-alih menjadi momentum keteladanan bagi para kader GMNI, konferensi yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi ideologi serta kaderisasi demokratis. Tersirat dalam perundingannya, suara kader dari bawah seakan tidak lagi penting, sebab skenario telah ditulis oleh mereka yang merasa paling tahu, orientasi perjuangan organisasi.
Konferensi kini tampak bagaikan panggung pergelaran wayang yang sedang dimainkan sang dalang dari balik tirai merah menyala. Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan mendalam di kalangan kader serta pengurus DPC, yang telah datang dari berbagai Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara ini.
Josua Tamba Ketua DPC GMNI Asahan “Kami datang untuk berkonferda, bukan untuk menonton permainan arah politik. Kalau semua sudah diatur oleh senior, untuk apa ada forum demokrasi?” ujarnya dengan nada kesal.
Selain mandeknya persidangan, situasi semakin diperparah dengan para kader dan pengurus DPC yang ikut terlantar di Kota Medan. Bahkan sewa arena pelaksanaan konferda dikabarkan telah habis, sementara keputusan mengenai jadwal sidang dan mekanisme pemilihan tidak juga diumumkan.
![]() |
| Surat Undangan Konferda ke DPC GMNI Se Sumatera Utara (Dok : Ketua DPC GMNI ) |
Windi Ketua DPC GMNI Kota Binjai “kami pun di kegiatan konferda, makan seadanya, dan dibiarkan begitu saja. sampai minum pun kami beli sendiri, Ini sangat memalukan untuk organisasi sebesar GMNI, apalagi kalau benar ada intervensi dari senior, itu pengkhianatan terhadap nilai-nilai marhaenisme,” tegasnya.
Kader yang datang dengan semangat dan biaya sendiri kini juga harus menanggung nasib tanpa kepastian. Kekecewaan ini mencuat karena sejak dahulu, GMNI dikenal sebagai organisasi ideologis yang menanamkan semangat nasionalisme, demokrasi, dan perjuangan untuk rakyat kecil. Namun kini, semangat itu justru tercederai oleh sikap elit internal yang diduga mengendalikan arah konferda demi kepentingan tertentu.
Josua Tamba kembali menambahkan “Senior seharusnya menjadi pembimbing, bukan dalang. Kalau kader tidak diberi ruang menentukan pilihan, maka hilanglah makna perjuangan itu sendiri,” jelasnya.
“Senior seharusnya membimbing, bukan mengatur arah suara. Kalau senior ikut bermain, itu bukan membimbing, itu memperalat!” ucap salah satu ketua DPC GMNI yang enggan disebutkan namanya.
Windi juga mempertanyakan "apakah Konferda ini masih berbicara tentang perjuangan rakyat, atau hanya tentang siapa yang paling terampil mengatur dan menundukkan suara kader, sedih bung Karno melihat ini " pungkasnya. (J.Ramli)


